Memandang secara arif antara karyawan dan pengusaha…atau kuli dengan bos…kerana itoe semoea hanjalah sawang-sinawang

pekerja kebun di bumi aji batu malang (2)Sebuah tulisan menarik dari seorang kawan di Jogjakarta yang mengulas dengan sudut pandang beda antara kuli dan bos. Sebut saja kawan ini bernama Bayu Haryo yang merupakan pengusaha sukses lele mencoba memberikan pencerahan baik kita yang berposisi sebagai buruh, kuli, karyawan atau apalah yang kerja ikut orang atau posisi sebagai pengusaha, wirawasta dan bos yang menurut pandangan orang hidupnya tinggal berleha-leha. Padahal sebenarnya itoe hanyalah sebuah sawang sinawang belaka. Artinya posisi kita dimanapun terdapat tanggung jawab dan resiko yang sama.  Yang penting apapun posisi kita jangan lupa bersyukur pada Tuhan atas segala potensi dan karunia yang diberikan pada hambanya.

Apapun pilihan kita mau menjadi karyawan atau pengusaha maka tidak usah saling mencela dan merendahkan. Semua punya peran dan tanggungjawab yang sama dalam pekerjaannya. Nah berikut mantemans coretan Om Bayu yang dimuat di catataan laman facebook tanggal 27 Januari 2014 kemarin. Semoga dapat menginspirasi dan mensukuri apa yang ada di tangan kita.

SESAMA PENJUAL DILARANG SOMBONG : SAWANG SINAWANG.

Apa sih istimewanya seorang pekerja kantoran? Lalu di mana kelebihannya orang yang (katanya) berwiraswasta atau wirausaha atau apa lah namanya? Dua “jenis pekerjaan” itu saya sudah pernah lakoni selama hampir 15 tahun dan saya tidak melihat atau merasakan perbedaan signifikan dari keduanya.

Sawang sinawang (Jawa) artinya dalam hidup itu kita selalu melihat orang lain lebih baik atau sebaliknya, padahal ketika dilakoni sama saja, tidak ada yang lebih baik, belum tentu dia lebih senang atau lebih susah.

WIRASWASTA / WIRAUSAHA = seringkali diartikan sebagai “memiliki usaha sendiri” entah itu berdagang; bertani; berkolam atau apapun lah, yang dengan bangganya para “pengusaha” itu mengatakan dirinya sebagai pemilik usaha yang menjadi bos atas dirinya sendiri; tidak diperintah atasan; menggaji orang dan lain sebagainya sebagai sebuah kebanggaan. Bangga? silakan, tidak ada yang melarang.

Mari kita kupas soal kalimat “menjadi bos atas dirinya sendiri”. Apa iya? Tidak juga.. Saya pernah menjalani usaha menjadi petani lele sejak 2010 akhir sampai sekarang. Menjadi bos? kata siapa? Dikejar pelanggan yang minta segera dikirim benih; benih mati dimaki-maki (petani Jabodetabek kejam2 dan gak kompromi lho); diomelin pengepul (pengepul Jabodetabek pun kejam2).

Gak punya bos tapi masih bisa diomelin orang, diuber-uber.. apa bedanya?

Soal penghasilan, yaaah rajin-rajinlah membaca kisah2 motivasi atau penguat batin lah, supaya bisa selalu BERSYUKUR hehehehe…. kadang ada, kadang gak ada, kadang besar, kadang kecil… serba naik turun. Saya rasa teman-teman para pengusaha / wirausahawan pasti mengalami yang namanya naik turun. Ada juga teman seorang wirausahawan di bidang udang galah yang sudah settle, usahanya dikontrak oleh bandar besar untuk selalu supply udang konsumsi rutin. Bahkan bila bandar itu sedang over stock pun udangnya pun tetap dibayar sesuai kontrak meskipun tidak diambil. Asik ya 😀

Oya, satu lagi untuk direnungkan. Anda wirausahawan? cobalah 1 hari atau 1 minggu Anda tidak bekerja atau ambillah “cuti” selama beberapa minggu, atau “cuti besar” selama 12 hari juga boleh, kira-kira Anda punya penghasilan tidak? Kira-kira Anda dicari orang tidak? Kira-kira Anda punya uang tidak? Kecuali bila sistem usaha Anda sudah berjalan atau Anda sudah dikontrak sehingga Anda punya pemasukan terus yang besarnya sama dan rutin.

Nah! Piye kabarmu BOS?! 😀

KARYAWAN = ORANG YANG DIKARYAKAN. Kenapa orang bisa dikaryakan? pastinya karena dia memiliki keahlian tertentu untuk mengerjakan suatu pekerjaan, dan untuk itu dia dibayar. Bahasa Inggrisnya adalah di-HIRE, artinya “disewa / dipekerjakan”.

Saat melamar pekerjaan, itu sama dengan seperti saat kita menawarkan barang dagangan kita, yaitu diri kita; kemampuan (skill), kita MENJUAL JASA yang kita miliki agar “dibeli” oleh orang lain yang membutuhkan jasa kita. Untuk itu lah kita dibayar. Kita pun “dikontrak” oleh orang tersebut dengan dibayar setiap bulannya. Malah sekarang banyak karyawan yang “diburu” atau “dibajak” karena keahliannya sudah terkenal di mana-mana, sehingga orang lain tertarik untuk “membeli” keahliannya itu dengan harga mahal.

Ada orang yang pandai mengajar, maka dia disebut dosen. Ada orang yang punya keahlian berhitung, maka dia disebut akuntan. Ada orang yang begitu ahli dan jeli terhadap sesuatu, maka dia disebut auditor. Ada orang yang ahli mengatur orang lain, maka dia disebut manajer. Ada orang yang punya keahlian di bidang yang spesifik, maka dia disebut konsultan dan lain sebagainya.

Lalu, apa bedanya dengan wirausahawan lele yang dikontrak oleh bandar seperti cerita di atas?

Wirausahawan / wiraswastawan memiliki barang dan/atau jasa untuk dijual kepada orang lain. Karyawan pun punya jasa berupa kemampuan untuk dijual kepada orang lain juga. Itu disebut sebagai MODAL!

Konsumen dari para karyawan adalah mereka yang memiliki uang dan membutuhkan keahlian seseorang.

Sama kan?

Saat saya berjualan jasa dengan menjual kemampuan supervisi dan manajerial saya di sebuah perusahaan ritel buku terbesar di Indonesia, saya pernah mengikuti seminar motivasi dari seorang motivator perusahaan yang juga menulis buku. Menurutnya : “barang-barang yang dijual di dalam toko buku ini semua cuma benda yang tidak ada nilainya apa-apa, cuma benda mati yang tidak bisa menjual dirinya sendiri. Justru Toko Buku ini memiliki “barang” yang harganya tidak ternilai, yaitu KARYAWANNYA. JUALLAH DIRIMU! Umbar sapa senyummu kepada siapapun yang datang ke sini dan melacurlah kepada setiap orang yang datang agar mereka senang dan mau membuang uangnya untuk membeli apa yang kamu tawarkan yaitu buku yang kamu pegang! Entah hari ini kamu pegang buku, besok kamu pegang asuransi, lusa kamu pegang MLM atau apapun, juallah dirimu!

Anda wirausahawan, Anda karyawan, Anda semua sama.

Sama-sama PENJUAL!

Sama-sama memiliki sesuatu untuk DIJUAL!

Sama-sama harus MENAWARKAN BARANG/ JASA ANDA!

Sama-sama MEMBUTUHKAN PEMBELI!

Sama-sama MEMERLUKAN MODAL!

Sama-sama MEMERLUKAN UANG!

Sama-sama MEMBUTUHKAN PEMBELI!

Kabeh wis tak lakoni (semua sudah pernah saya jalani).

Saya tidak pernah merasa lebih baik atau lebih bangga dari yang lain ketika saya berwiraswasta atau berkarya. Hingga saat ini saya masih tetap berjualan kok, yaitu menjual diri saya dan keahlian saya sambil terus berharap agar pelanggan saya yaitu orang yang membeli jasa saya itu senang bahkan puas. Karena itu lah saya selalu bersyukur dan gembira karena masih ada orang yang mau membeli “dagangan” saya.

Jangan pernah mengatakan “saya cuma kuli”. Bersyukurlah ada orang yang mau membeli dan membayar keahlianmu sebagai “kuli” dengan harga jutaan. Tolong, jangan nafikkan itu 🙂

Sekian, selamat MENJUAL! Semoga dagangan Anda laris 😀

Demikian mantemans tulisan inspiratif dari Om Bayu yang mungkin bisa menjadi motivasi dalam menjalani hari-hari kita baik sebagai pengusaha maupun karyawan dimanapun berada.

Maturnuwun

baca juga :

Advertisements

23 thoughts on “Memandang secara arif antara karyawan dan pengusaha…atau kuli dengan bos…kerana itoe semoea hanjalah sawang-sinawang

  1. Harus saling menghargai sih intinya… Jangan sampai kejadian karyawan membunuh bos nya karena sakit hati dll. Mental setiap orang beda-beda…

    Like

Dipersilahkan berkomentar (^-^)! , Ngapunten kalau gak sempat membalas :-D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s