Derita pengguna BPJS, jadi sasaran kekecewaan dan kemarahan dokter.

lustrasi Kartu BPJS

lustrasi Kartu BPJS

Sebuah curcol dari bro Lovely Mehong yang sedang memeriksakan kandungan istrinya di sebuah rumah sakit di bilangan Depok. Curcol yang dimuat di laman fesbuknya tanggal 7 Januari 2015 ini mengisahkan sisi lain derita pengguna BPJS. Kasus ini bermula ketika bro Lovely mendapat rujukan untuk proses pemeriksaan kandungan istrinya. Nah di rumah sakit ini tidak tahu jluntrungnya tiba-tiba si dokter bermuka masam, membentak dan berbicara keras yang mestinya tidak perlu dilakukan seorang dokter terhadap pasiennya. Perlakuan tidak mengenakkan ini apakah berawal dari pasien BPJS ataukah mungkin sang dokter sedang kalut pikiran sehingga terbawa esmosi yang berkepanjangan.

Mungkin kasus ini tidak bisa digeneralisir tetapi sebagai warning  aja bagi pasien BPJS yang lain di seluruh Indonesia. Denger-denger sistem BPJS yang ada ini memang honor dokter begitu kecil sehingga terkadang tidak sumbut antara usaha yang dikeluarkan dengan honor yang diterima nantinya. So kadang ada dokter yang ogah-ogahan menerima dan melayani pasien BPJS. Tetapi percayalah masih banyak dokter yang berjiwa mulia melayani pasien tanpa memandang kasta…hehehe.

Nah berikut mantemans curcol selengkapnya dari Bro Lovely Mehong ini :


 

Perlakuan yang tidak meng enakan dari Seorang Dokter (dimanakah kode etik dokter itu ?)

Kronologis :
Istri saya sedang mengandung dan kami adalah peserta BPJS, untuk periksa kandungan prosedur BPJS adalah memeriksakan ke Faskes 1 (fasilitas kesehatan) dan setelah menginjak kandungan 8 bulan (32 minggu) faskes 1 yg notabene adalah polyklinik umum (ditangani oleh dokter umum) memberikan rujukan untuk melakukan pemeriksaan ulang ke bidan yg bekerja sama dengan BPJS.

Namun mengingat Istri saya mempunyai riwayat IUFD (janin meninggal dalam kandungan) sebanyak 2 kali, pertama pada tahun 2008 anak pertama diusia kandungan 36 minggu, dan yang kedua pada tahun 2012 anak ke tiga di usia kandungan 28 minggu, maka untuk mengambil aman nya kami memeriksakan kandungan ke Polyklinik kandungan yg tidak bekerja sama dengan BPJS yang ditangani langsung oleh dokter SPOG, menginjak usia
kandungan 34 minggu Dokter memberikan warning bahwa kondisi Janin masih sungsang dan air ketuban jumlah nya sedikit, maka Dokter memberikan warning untuk kesiapan dana yg harus kita siapkan untuk melakukan bedah Caesar.

Lalu kami menjelaskan bahwa kami adalah peserta BPJS, dan Dokterpun memberikan catatan tentang kondisi kandungan istri saya pada buku kontrol periksa dan menunjukannya pada dokter umum di faskes 1 yg tertera pada kartu BPJS istri saya dengan memberikan note (lisan) bahwa pada minggu 35/36 harus segera terdaftar di rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS untuk melihat kondisi janin/kandungan istri saya,(melakukan pemeriksaan lanjut),
Tersebut tanggal 6 januari kami melakukan pemeriksaan ke dokter faskes 1 yang tertatera pada kartu BPJS, setelah melakukan konsultasi sekaligus memberikan buku catatan control dokter SPOG Polykilinik tempat biasa kami periksa, dokter faskes 1 memberikan rujukan RS yang bekerja sama dengan BPJS (RSIA Hermina Depok – jl. Raya siliwangi no 50 Depok) di hari yang sama kami langsung menuju RSIA Hermina Depok dan pada pukul 15:00 kami melakukan pemeriksaan oleh Dokter SPOG di RSIA Hermina (Aris Wahju. SPOG)

Kontak pada pukul 15:00 masuk ruangan Dokter :
Saya (suami) : “selamat sore Dokter”
Dokter : dengan tidak membalas sapaan saya dan menatap miris kepada kami dengan memegang data dan surat rujukan dari faskes 1 langsung bertanya : ” Kondisi nya giman/kenapa ini kok bisa dirujuk kesini ???”
Saya (suami) : sambil memberikan buku catatan Periksa/control istri saya di Polyklinik umum oleh dokter SPOG,“ini dok’ ada catatan kondisi periksa rutin di dokter tempat kami periksakan kandungan”
Dokter : dengan nada tinggi dan sambil menepis buku itu tanpa melihat/membaca isinya terlebih dahulu. “saya tidak mau tau dan baca isi nya itu apa !!, saya , saya mau tau dari cerita langsung, alasannya apa kok bisa di rujuk kesini !!!”
Saya (suami) : karena kaget dengan reaksi dokter tersebut maka saya jawab dengan sedikit gugup “ya kurang tau Dok’ saya hanya mendapat rujukan ke RS ini dari Faskes 1, setelah dokter faskes 1 membaca buku catatan periksa istri saya di Dr.SPOG Polyklinik umum”
Dokter : dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya (sedikit membentak) “ nggak bisa begitu masa bapak Nggak tau kondisi istri nya di rujuk kesini kenapa ?? “
Saya (suami) : lebih terkejut lagi dan menjawab dan berusaha menjelaskan kronologis dari awal, tentang kondisi istri saya yn IUFD 2 kali, dan kenapa kami memeriksakan rutin di Polyklinik umum yg bukan peserta BPJS, dan kenapa akhirnya dokter faskes 1 mengelurakan surat rujukan ke RSIA Hermina Depok, tetapi sampai tiga kali saya di potong dengan nada sangat tinggi “kenapa !! inti nya kenapa kok bisa sampai dirujuk kesini”

Kami berdua sangat kaget bahkan istri saya sampai menangis, lalu saya jelaskan secara singkat bahwa kontrol terakhir istri saya di vonis jumlah air ketuban yg sedikit dan posisi janin yang sungsang,
Dokter : dengan nada tinggi kembali akhir nya dokter itu berucap “Ya sudah Periksa !!” sambil mengibaskan tangannya di depan muka kami kearah bidan (bidan Nara) yg sudah menunggu di kasur periksa,
Dalam keadaan terisak isak (menangis) istri saya bangun dari tempat duduk pergi menuju kasur periksa, dan saya menunduk sambil memegang kepala karena menahan emosi saya, namun bukanya dokter itu segera memeriksa istri saya, dia malah ber ucap dengan nada tinggi kembali “ini semua harus Jelas !!! saya tidak mau menjadi lemparan masalah dari mereka (dr. SPOG dan dr. faskes 1)”, “dan Nanti kalo hasil periksanya ternyata bagus saya akan kasih rujukan untuk di kembalikan ke Faskes 1” dan menambah bentakanya lagi “Perlu bapak Ketahui bahwa BPJS tuh yang dirugikan kita (dokter-red), kita nggak dapat apa apa dari BPJS”

Saya (suami) : melihat gelagat begitu hati saya nggak Ridho istri saya di periksa oleh dokter yg marah marah seperti itu lalu saya menarik istri saya dan berkata “ ya udah bu nggak usah jadi diperiksa”
Dokter : dan dokter pun malah menjawab “ya sudah kalo nggak mau periksa”

Kami hanya terkejut dan terheran heran, apa Salah kami ?
apakah BPJS itu Program untuk keluarga yang tidak mampu ??? yang nasibnya di bentak bentak dokter ?
Dimana Kode Etik dokter Aris Wahju SPOG ?

Kepada semua Pihak IKATAN DOKTER INDONESIA, pihak Penyelenggara BPJS, RSIA Hermina Depok kami hanya menuntut keadilan atas kejadian ini .
Demikian keluhan saya buat tanpa ada tambahan atau melebih lebihkan keadaan


 

Kabar terakhir (12/1) kasus ini telah ditindak lanjuti secara internal oleh pihak Manajemen RSIA Hermina Depok. Semoga kesewenangan dokter terhadap pasien terutama BPJS tidak terulang kembali. Dan semoga ini hanya ulah oknum dokter saja dimana sekali lagi tidak dapat di generalisir untuk dokter secara umum

Maturnuwun

Baca juga :

 

✌ diposting dari BlackBerry Z3tia1heri ^_^

Advertisements

177 thoughts on “Derita pengguna BPJS, jadi sasaran kekecewaan dan kemarahan dokter.

  1. Lapor saja ke IDI kalau dokternya seperti itu tidak etis kalau pasien disalahkan lantaran menggunakan BPJS, wong BPJS bayar juga toh bukan gratisan. Kalau memang kurang duitnya ya protesnya ke pemerintah yg mewajibkan BPJS bukan ke pasien. Tapi bukan pertama kali sih dengar berita soal BPJS didiskriminasi, sebaiknya pasien BPJS minta rujukan faskes 1 nya ke RSUD jangan ke RS Swasta….

    Like

  2. Reblogged this on DatukToman's Blog and commented:
    dengan nada tinggi kembali akhir nya dokter itu berucap “Ya sudah Periksa !!” sambil mengibaskan tangannya di depan muka kami kearah bidan (bidan Nara) yg sudah menunggu di kasur periksa,
    Dalam keadaan terisak isak (menangis) istri saya bangun dari tempat duduk pergi menuju kasur periksa, dan saya menunduk sambil memegang kepala karena menahan emosi saya, namun bukanya dokter itu segera memeriksa istri saya, dia malah ber ucap dengan nada tinggi kembali “ini semua harus Jelas !!! saya tidak mau menjadi lemparan masalah dari mereka (dr. SPOG dan dr. faskes 1)”, “dan Nanti kalo hasil periksanya ternyata bagus saya akan kasih rujukan untuk di kembalikan ke Faskes 1” dan menambah bentakanya lagi “Perlu bapak Ketahui bahwa BPJS tuh yang dirugikan kita (dokter-red), kita nggak dapat apa apa dari BPJS”

    Liked by 1 person

  3. wah..parah itu kang.. 👿
    moga aja emang oknum…moga istri ybs sehat..coba istri dokternya yang menerima perlakuan kayak gitu, gimana??
    wong juga bayar kok, gak ngemis 👿

    Like

  4. kalau saya mikirnya.. BPJS itu asuransi… kita bayar ke asuransi untuk jaminan ketika sakit. simplenya… soal asuransi yang tidak menguntungkan dokter… lha dokter harusnya complain ke BPJS.. bukan ke nasabah… yah kaya kita nabrakin mobil… masa bengkel marah marah ke customers karena ga bayar… ya iyalah ga perlu bayar kan uda bayar premi ke asuransi mobil… nanti asuransinya yang bayar ke bengkel… normalnya .. bengkel akan complain ke asuransi ketika pembayarannya seret. gitu tah….

    kurang sehat nih dokternya….

    Like

  5. Wahh harus diproses tuh dokter… Sangat keterlaluan… kalo aku sebagai suaminya sudah kugampar tuh dokter…. Harus diberi sangsi tegas… Namanya siapa dokter itu? dr Aris Wahju SPOG di RSIA Hermina Depok. Nah harus jelas dan tegas disebut namamya biar se Indonesia tau kelakuan dokter ini…..

    Like

  6. Ya begitulah SDM disini. Pengalaman warga kita yang tinggal di perbatasan dengan malaysia. Dia lebih memilih berobat di negeri tetangga tersebut. Dari pengalaman dia, di RS malaysia jika ada pasien yang butuh penangan medis, langsung dilayani. Langsung bisa opname dan mendapat perawatan yang dibutuhkan. Masalah biaya urusan belakangan. Jika pasien tidak mampu bisa dicicil, dan tidak ada patokan besaran cicilan yang harus dibayar tiap bulannya.
    Ini berbeda jauh dengan disini, seperti berita bulan lalu, di daerah sulawesi ada pasien tak mampu yang membutuhkan operasi caesar. Begitu masuk ruang operasi, malah dokter dan perawatnya keluar dan tidak menanganinya. Orang tua pasien sampai memelas mohon-mohon pada pihak RS tapi tidak digubris. Sedangkan si pasien mengerang merasakan sakitnya. Akhirnya dengan terpaksa pihak keluarga membawa ke RS lain.
    Sepertinya para dokter dan pihak RS tidak mengutamakan keselamatan pasien dan janinnya, tapi lebih mengutamakan uang…. #miris

    Like

  7. turut prihatin atas kasus diatas..tapi pengalaman saya berbeda,kebetulan beberapa bulan yang lalu anak saya sakit dan harus dirawat di RS Swasta Kota Mojokerto selama 4 hari,sengaja ke RS tersebut karena melayani pasien BPJS, kebetulan anak saya punya kartu BPJS.
    Pelayanannya sangat bagus, dokternya juga ramah, baik dokter spesialis maupun dokter umum,apalagi para perawat juga sangat terbuka memberikan info2 ttg kesehatan anak saya,sedikit pun ga ada pelayanan buruk, mengenai pengurusan surat2, saya hanya diminta surat rujukan dari puskesmas sebagai syarat kepengurusan dirawat RS swasta tersebut,gratis lagi ga ada pungutan apapun. Alhamdulillah setelah keluar RS saya nggak mengeluarkan biaya apapun untuk RS maupun obat2an di apotek rekanan RS.

    Like

  8. Sdh 3 teman pake bpjs.
    1. Anaknya operasi tulang.
    2. Teman operasi prostat
    3. Teman yg operasi batu ginjal.

    Semua nggak keluar uang sepeser pun. Bahkan biaya di luar operasi, seperti ct scan pun ditanggung. Memang sih keluarga mesti luangkan waktu untuk urus ini itu.
    Kalo soal ini, mungkin dokternya aja tuh yg edan. Hehehe.

    Sama aja lah dg yg lain. Ada mekanik baik,mada mekanik yg ngibul.

    Like

  9. kurang ajar tuh dokter, ketemu saya mah tak maki2x sampe semaput di tempat tuh manusia. saya bakal inget tuh nama, Aris Wahju SPOG. dokter ga beres

    Like

  10. Padahal dokter itu “Luaran” nya gede Mas,, mksudnya pendapatan diluar gaji pokok lumayan gede.. 1x visite aja udah gede, apalagi berkali kali, jadi seharusnya gak masalah utk menangani Pasien BPJS, walaupun akan mendapat bayaran sedikit
    Mana sering marah marah ama perawat. Hiks 😦

    Curhatan perawat nih Mas 😦
    Hehehe

    Like

  11. Kisah sedih mgk berbeda dg cerita di atas tapi benar merahnya sama. Bapak saya didiagnosa ada gangguan di paru dan saraf. Surat rujukan sdh oke, dibawa ke RS Pasar Rebo, stl daftar dan ngantri, kmd diperiksa dr. Gotot SpS, melihat kondisi bapak saya yg sdh agak setengah lumpuh, dr Gotot meminta utk dilakukan CT Scan, krn di RS Pasar Rebo rusak, dirujuklah kami ke RS. Polri Sukanto Cililitan. Bayangan saya, langsung dilakukan CT. Scan, tapi ternyata harus ngantri lagi ke poli saraf, diperiksa sm dr Joko, Aneh bin ajaib, dr ini menolak utk melakukan CT Scan. katanya bapak saya sdh pasti stroke, jd ga perlu CT Scan.
    Sy bkn org goblog2 banget Gan, bkn sombong, saya lulusan S2 dengan IPK 4!! Sy pikir ni dokter terlampau sakti ya? sampai mau diagnosa ga perlu alat, pdhl profesor Satyanagara (ahli saraf terbaik Indonesia) menyarankan MRI (MRI lebih detail dari CT Scan). Akhirnya krn bapak saya kecewa, lalu minta pulang ke Garut. Kata RSUD Slamet bapak saya HARUS di CT Scan dan dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung. Tapi lagi2 kami kecewa, krn mentang2 peserta BPJS, antriannya pd pagi itu dapat yg ke 700!!
    Akhirnya kasian melihat kondisi bapak yg kali ini sudah lumpuh, kami lakukan CT Scan di RS Santosa Bandung DENGAN DUIT SENDIRI. Dan tahukah skr bagaimana? Bapak saya divonis KANKER OTAK STADIUM 4!!!

    Jadi saya sbg PNS, trauma pake BPJS!!!! Sy ga tau salahnya dimana, mmg scr prosedur sdh lebih mudah, tapi kayaknya dipandang sebelah mata oleh rumah sakitnya

    Like

  12. wah bener bener keterlaluan …. saya aja bacanya sampe emosi dan merinding, kalo terjadi sama saya gatau tuh dokter saya apain. Alhamdulillah istri saya rutin di periksa di sebuah RS yang bener2 saya acungkan jempol untuk seluruh staff dan dokternya di wilayah Cibaligo RS. Mitra Anugerah Lestari. jauh banget dengan dokter yang kaya gitu. terima kasih kepada RS MAL you are the best lah ….

    Like

  13. Kalau soal persalinan sebaiknya gak ganti – ganti dokter sih pak. Dulu pengalaman saya juga dokter saya (bukan BPJS) gak mau terima pasien yang tiba – tiba sudah 8 bulan atau mau melahirkan karena resiko bisa jadi bermasalah dokter sebelumnya gak mau resiko dioper ke dokter lain. Sebaiknya tetap pada dokter SPOG yang sudah menangani dan cesarnya sama dia juga.

    Walaupun saya sangat tidak membenarkan perilaku buruk dan aneh dari dokter BPJS itu, tapi kalu dilihat dari sisi dokter tersebut dia mungkin kesal karena sudah bayaran murah, dikasih masalah dari dokter lain yang dikira dia lepas tangan dari persoalan sungsang ini.

    Like

  14. harap maklum sodara2 skalian, BPJS belum menyalurkan gaji para pekerja medis ini dari tahun 2014.. saya juga pernah lihat dan mengalami keadaan yg hampir mirip (sikap yg kurang mengenakan dari dokter dan suster). Masalah gaji ini saya tau dari tetangga saya yg dokter di puskesmas

    Like

  15. Pingback: Akibat dipandang sebelah mata PNS ini trauma memakai BPJS | setia1heri.com

  16. Dokter spt itu g ada tata kramanya,mmgnya dia siapa br dokter gitu aja sdh berlagak.qt yg ikt program bpjs bknnya pengemis mau mnta gratisan,kl saya yg jd pasien yg mengalami hal spt itu td bnr2 saya akn gampar dokter itu,krg ajar skali….

    Like

  17. Istri saya pun pernah mengalami hal yg sm dibentak2,tp kl ini kasusnya beda kl ini dokter gigi pd hal istri sy cm tny utk cabut gigi tp skalian mau bersihkan gigi eh…..malah dijwbnya dgn nada tinggi,satu kali kunjungan satu kl perlakuan tdk lbh!!!!!tinggal pilih mau yg mana.dlm hati sy ini dokter kok ksr skali bcrnya,tp untungnya istri sy mengingatkan sy.jd sy diam aja

    Like

  18. mohon maaf untuk sejawat saya
    Saya dokter, Dokter Bedah Tumor di Denpasar

    Tidak benar komentar dokter sejawat saya itu
    BPJS membayar saya cukup layak dan lebih dari cukup untuk HIDUP NORMAL
    Saya sangat bersyukur untuk itu
    Untuk pasien, pasien sangat terbantu, hampir 100 persen, sekali lagi, hampir serayus persen, obat kemoterapi yg luar biasa mahal itu ditanggung BPJS

    Mungkin bapak ketemu orang yg salah saja

    Like

  19. Duit kuliah Dokternya belum balik modal itu…Jadi dokter kog yg dipikirkan duit…jd Dokter itu tugas yg paling mulia, krn punya kesempatan utk bisa langsung membantu orang lain…Anak saya dari kecil sdh sy arahkan utk jadi dokter dengan tujuan bantu orang yang membutuhkan…kasih Pro-bono utk yg g mampu…Saya cita2 jd dokter g kesampean, semoga Tuhan kasih kesempatan anak saya nantinya bisa jadi Dokter yg baik.

    Like

  20. Dokter (Aris Wahju. SPOG) niatnya jadi dokter pengen cepet kaya kali ya bukannya berniat untuk membantu orang yg lagi sakit, kl emang dia merasa ga dapet apa2 dr BPJS komplennya kepemerintah dong jgn marah2in pasien yg ga tau apa2, sabar ya mas mudah2an dokternya bs dapet hidayahh 🙂

    Like

  21. ya ga gitu juga lha..klo meriksa pasien.ktnya dokter….kok msh pilih2 pasien. tp ak juga pernah ngalamin itu..sebenarnya ak punya uang tp nyoba pelayanan pake askes( klo jaman dulu blom bpjs)eh periksa nya ga di pegang2 cm ditanya keluhannya apa??truz di kasih obat…..tp klo pake uang eh…langsung dokter baik bgt

    Like

  22. mama sy jg pernah alami hal yg tdk enak krn pakai bpjs di rsud “t” di jakpus di usir pulang stlh di rwt 6 hr tanpa operasi penyambungan tulang patah dg alasan ruang operasi nya penuh dlm wkt tdk jelas ( ketika minta list ruang operasi tdk diksh) !! ttp stlh byr sktr 17 jt lgs dlm 2 hr ruang operasi nya kosong !!!

    Like

  23. Indonesia bung, begitulah kalo pelayanannya seperti itu. Dari PDAM, PLN, Angkutan Massal selalu bikin kecewa. Saya sendiri alami hal yg tidak mengenakkan pakai BPJS, rumah sakit menolak dengan halus dengan alasan kamar penuh. Akhirnya ke rumah sakit non rujukan walaupun harus pinjam dana sana sini. Sumpah tega-teganya pelayanan rumah sakit ataupun BPJS. Di indonesia, dimana perlindungan hukum terhadap hal-hal seperti ini.

    Like

  24. Yah tidak semua dokter begitu. Tp kalo di search lg dokter ini jg pernah ada yg memuji. Mungkin ya walaupun tidak seharusnya dilakukan, si pasien adalah pasien rujukannya yg ke 100 dengan alasan rujukan dan riwayat pemeriksaan terdahulu yg tidak tertulis jelas sehingga si dokter emosi ditambah lg mungkin baru saja tertimpa kemalangan. Positif thingking aja. Tidak semua dokter digeneralisasi spt itu. Dokter tidak semuanya kapitalis tp keaadaan kadang memaksa utk spt itu. Mungkin suatu saat pemerintah jg mempertimbangkan utk subsidi sekolah kedokteran dan spesialis shg sekolah dokter tdk lg jd sekolah yg mahal. Dokter juga rakyat, dokter jg manusia. Skrg ini dokter jd sasaran empuk medsos. Pelayanan harus prima tidak boleh mengeluh walau capek anak dirumah sdh merengek tp blm bisa pulang tetap harus tersenyum pada pasien. Im proud to be a doctor

    Like

  25. Wah, ini dokternya aja yg gak punya jiwa kemanusiaan…
    Keluarga saya pengguna bpjs semua, tpi selalu dapet pelayanan yg baik tu, ibu saya sebulan sekali harus check up di RS Roemani semarang, konsumsi obat2 khusus yg klo kita mesti beli paling gak habis uang sejutaan tpi pake bpjs jdi gratis, ponakan juga pernah opname d RS panti wiloso semarang, pelayananya cepat dan bagus… gak ada dokter n perawat yg jutek judes n kasar hanya karna kita pake bpjs

    Like

  26. tgl 7 januari 2015 kemarin anak saya lahir prematur & posisinya sunsang di rawat RSU Tanjung Selor lahir normal & pd tgl 14 januari 2015 anak saya tidak tertolong karena muntah darah padahal 3 hari setelah lahir anak saya kelihatan sehat saya punya photonya kondisi anak saya saat itu yg jadi pertanyaan & kecurigaan saya saat ditangani penyelamatan waktu itu kenapa bukan dokternya sendiri tapi asistennya sama suster? apakah gara2 istri saya pakai bpjs jugakah hingga yg menangani hanya asisten dokter…

    Like

  27. begitulah mental dokter di indonesia…saya kerja di rumah sakit pemerintah lho…saat kebetulan sakit dan diberiksa di tempat kerja sendiri pernah dokter terang terangan bilang sama saya “masa pemerintah kasih pasien miskin terus sama kita, mau bikin semua dokter mati miskin apa dengan program BPJS nya”

    Sumpah saya kaget dan jujur emosi…segitu sama karyawan gimana sama pasien umum BPJS yah dan saya bayangin kalo orang tua saya di posisi saya gimana….

    Akhirnya saya laporkan dan sampai saat ini bagian kode etik dokter gak bisa berbuat apa apa…mungkin ibarat si buah simalakama di butuhkan jadi bingung mau cari gimana dimana lagi mungkin emang hampir semua dokter di indonesia bermental seperti itu….

    kembali ke kata memiskinkan..saya kebetulan kerja di bagian keuangan nya dan saya yang mengurus honor2 itu dokter…mau tau penghasilan itu dokter rata-rata 80juta ke atas….di miskinkan kemana..belum dapet fee dari distibutor obat yang jadi langganan nya…

    aada apa dengan mental dokter di indonesia…???

    Like

    • pernah anda ngitung berapa duit buat sekolah kedokteran dan spesialisasi…pernah anda hitung tentang belanja dokter, istri dan anak-anaknya,…pernah anda hitung berapa dana buat ikut seminar biar dokternya bisa terus praktek buat ngasih kehidupan yang layak buat keluarganya…dan pernah anda berpikir jika dokter tetp bukan malaikat dia cuma manusia biasa…kalo penghasilan spesialis sampe 80 segitu wajar lagi pula penghasilan segitu setelah melayani berapa ribu pasien…dia juga sekolah keluar milyaran dan beban psikologis saat sekolah juga besar…kalo mo adil..tunjuk pemerintah,jangan jadikan dokter dan tenaga kesehatan lainnya
      komoditi politik ,

      Like

  28. Parah emg yaaa,,sehrusy qt jg bertindak tegas sm dokter atw RS klo ad perbedaan dgn bayar atau pngguna kartu keshtan sprti bpjs.qt kan stiap bln byr,dan qt ga tau kpn pake nya itu kartu,uangy kmn apa ad perhitungan jk tdk dpke uang kembli,hrusy dokter mikir+tau.jika rs itu tettera bekrja sm dgn bpjs tinggal lakukan sj tugas dokter+rs itu ngapain ga usah marah2 atw kasar.
    hrus laporin ni klo bgni,biar ga ad klrga yg berikuty dperlakukan sama.!!

    Like

  29. Pingback: Share pengalaman nyata dengan BPJS, tidak selalu bernasib malang!malah happy ending! | mario devan Blog's

  30. Hmm.. memang bpjs sangat merugikan dokter indonesia. Semoga pemerintah lbh memperhatikan keadaan dokter bukan hanya mengeluarkan kebijakan2 yg kesannya menguntungkan rakyat tp dibalik itu merugikan pihak dokter.

    Tidak semua pasien bpjs mendapatkan pelayanan krg menyenangkan, byk jg yg merasa terbantu dan puas..

    semoga ke dpnnya lbh baik

    Like

  31. Ya betul tu dokteer. Babi tu kalo istri gw digituin.. gw mutilasi dit4 dokter nya.. ingat dokter2 yg laen.. kami pengguna bpjs iini bayar bukan gratis,, tolong hargai pasien anda. G ada orang yg mau sakit.. tugas anda sebagai dokter jang duit yg dikemukakan..

    Like

  32. Dokter kaya gt perlu diambil tindakan. Gak ada hati sama sekali tuh dokter. Perlu dikasih ganjaran dipecat atau dilarang melakukan praktek sama sekali biar jera tuh dokter

    Like

  33. saya pengguna bpjs juga yg non premi sebulan ,, tapi alhamdulillah kemarin saya melahirkan di tangganin oleh dr” yg ramah dan bidan yg supel .. dan tidak di beda kan pengguna bpjs atau tidak .. semua di layanin sama …

    Like

  34. Sudah jelas dari pernyataannya,,,,bahwa BPJS merugikan dokter karena tidak dapat apa-apa. Jadi kesimpulannya bagi dokter tersebut UANG SEGALANYA.

    Like

  35. Cabut aja ijin prakteknya. Biar jd org susah. Baru berasa dia. Dokter kek gni nih yg gak pnya moral merusak sistem. Kalo gak mw d byr kecil sama bpjs. Keluar aja dr indonesia..

    Like

  36. Semoga pemerintah bisa belajar dan memperbaiki sistemnya.siapa yg mengontrol layanan dilapangan jika terjadi hal2 spt ini?karena lagi2 yg di rugikan adalah peserta bpjsnya!!

    Like

  37. Dokter anjing yg cuma mengharapkan duit..dg tingjah laku spt it ga bakal kaya tuh dokter..suatu saat anak nya bakal susah dan dapet karma dri bapak nya yg ga punya rasa kemanusiaan.. Keluarga Dokter aris wahju ga akan hidup dalam damai.. Dasar dokter anjing

    Like

  38. lah sebenarnya BPJS itu apa sih dan untuk apa,toh itu kan kita bayar sama aja kita nabung kenapa dapet perlakuan seperti itu ya,terkecuali buakan uang kita ini kan uang hasil keringet kita kenapa dipandang sebelah mata ya para pengguna BPJS itu,coba lah di susun kembali prosedurnya biar tidak ada kesalah pahaman dan ada yg merasa dirugikan gini #HanyaUsul

    Like

  39. parah itu dokter…. untung si suami sabar…. klo saya mah sudah gua hajar sampe mati tuh dokter…. meremehkan org pake bpjs…. lha wong qta bayar juga bulanannya… hukum alamnya sih… dokter yg tingkat kemanusiaanya rendah, dijamin ndak laku…. saya dulu belajar filsafat manusia dan etika kedokteran di fakultas kedokteran, namanya dokter itu ndak bole pandang bulu.. siapapun pasiennya, harus dilayani dengan tingkat kemanusiaan yg sama. bila tidak diperlakukan sama, berarti dokter itu bukan manusia dan harus dimusnahkan. perlu dipertanyakan juga bahwa tujuan jadi dokter itu apa? cari duit ato tujuan kemanusiaan? krn sumpah dokter pun ada soal kemanusiaan bukan soal duit…..

    Like

  40. urusan Dokter dirugikan, harusnya protes ke manajemen rumah sakit! rumah sakit terutama dokternya harus menghilangkan Stigma bahwa pengguna BPJS adalah orang tidak mampu! di kantor saya pengguna BPJS (Askes) tidak semuanya karyawan tingkat rendah, yang berpendidikan Doktor maupun Professor semua menggunakan BPJS, sama hal nya TNI/POLRI.. yg membedakan adalah fasilitas ruang perawatan, pada waktu penanganan oleh dokter akan sama perlakuan! hematnya ketika kita memiliki suatu pekerjaan maka seyogyanya sikap kita mengikuti pekerjaan kita, jangan jadi dokter kalau tidak mau menolong orang!

    Like

  41. Aduuh pak.. nggak boleh terlalu sabar spt itu. mestinya dokter itu dimaki-maki, atau balik-balikin meja prakteknya. isteri perlu dibela dong..

    Like

  42. sudah biasa kalo pasien BPJS diperlakukan seperti itu, TIDAK DIAJENI, saya sudah merasakannya juga, buat apa ada BPJS, saya kan bayar tiap bulannya bukannya GRETONGAN…..hapus saja BPJS, yang ujung2 nya selalu ada keributan

    Like

  43. dokter…..dokter…. kmrn2 demo sampe pasien g diperhatiin…..sekarang makin jadi lagaknye….. mending balik lg kemantri….cuman modal suntikan ama pengalaman g ada yg pernah mati ama mantri …. nih sklah doang tggi akhlak g ada…”mikir”(kutipan dari cak lontong)

    Like

  44. BPJS itu sistem kyk komunis…suka atau tidak suka harus terima, sosialis, dan ada unsur paksaannya (tdk memikirkan instansi atau individu peserta dan yg akan melayani si peserta)…tp BPJS tidak bisa d salahkan karena mereka sebagai pelaksana saja, yg pantas di salahkan ya siapa yg membuat BPJS (siapa yah?)…semua perusahaan atau RS (milik pemerintah atau swasta) pasti memikirkan untung dan rugi, jd biar ga rugi ya honor dokter, perawat, bidan, dan petugas lainnya selalu di tekan (ada beberapa tmpat sampai obat jg d tekan)…dokter selalu di jadikan tameng semua masalah d rumah sakit, jd klo mau tau manajemen suatu RS dan asuransi yg baik atau tidak ya lihat saja dari pelayanan nya 🙂 …ada istilah “ada duit, ada barang…mau pelayanan oke, siapin duit yg oke”…istilah td mau sy tujukan ke pembuat sistem BPJS…bagi sy di kesehatan tingkat pelayanan kesehatan harus bagus, sangat bagus, sangat sangat bagus..bukan ekonomi, bisnis n eksekutif…jd sy mohon kepada siapapun pencipta BPJS dgn cepat dilakukan evaluasi dan perbaikan pada sistem ini…tks

    Like

      • Saya baru bertemu dgn teman seorang dokter umum yg praktek d klinik yg bekerjasama dgn BPJS, dia mengaku kalau hanya di upah Rp1.000 / pasien…menurut anda semua, apakah pantas seorang dokter di bayar Rp1.000 / pasien di jaman sekarang?? Apakah masih kurang tertindas tmn saya itu?? Pantas kah dia jika ada perasaan seperti dilecehkan?? Biaya parkir mobil saja sudah Rp2.000 minimal.. Serendah itukah harga yg pantas tmn saya terima?? Dan mau kah peserta BPJS di hargai serendah itu kesehatannya??

        Like

  45. Kebangetan ni dokter,jd dokter lulusnya nembak kali sampe” gatai etika dunia kedokteran.pasien dateng baek” malah dibentak,ga berkah tuh kerjaannye tar

    Like

  46. hanya sedikit menyimak masalah tersebut…apakah niat dari seorang para calon dokter dan para specialist itu tidak di dasari dengan keihklasan???? Sekolah menjadi seorang dokter memang sangat mahal namun apakah itu mengalahkan keikhlasan hati untuk saling menolong??? Im not getting the point… So sad…

    Tq

    Like

    • Indonesia sudah menganggap kalau hubungan pasien – dokter bukan lagi sekedar saling menolong dan keikhlasan hati, tp lebih antara penjual jasa dgn konsumen…anggap ada seorang dokter yg dgn ikhlas menolong seorang pasien, tp pasien tersebut pada akhirnya meninggal (atau cacat), apakah anda yakin 100% keluarga pasien tidak akan menuntut dokter tersebut? Karena hal itulah kemungkinan banyak pasien BPJS diperlakukan kurang baik…karena dokter akan beranggapan resiko (keselamatan pasien, keselamatan si dokter, masa depan si dokter) yg dipertaruhkan sangat besar tidak berbanding lurus dengan apa yg akan di dapat si dokter…kejadian yg di posted di atas jelas2 peserta BPJS, dokter, RS merupakan korban dari sistem…

      Like

      • bro Kawan Bersama,
        alasan anda menarik, “korban dari sistem”
        tapi alasan itu bukan suatu pembenaran untuk oknum dokter yang bersifat melecehkan seperti itu. Tetap saja salah, dan tolong, dibedakan masalahnya, antara sistem, dan cara bersikap yang dilandasi kode etik dokter.
        saya rasa itu tidak mencerminkan kode etik dokter yang sesungguhnya.

        Like

  47. kalo jadi Bapak ini… udah w acak” tuh rumah sakit…. dokter SARAP!!!!!!! sabar amat Pak dimaki” dokter tanpa ada juntrungannya?????

    Like

  48. Harusnya catat nama dokternya dan laporkan ke pihak BPJS, smua yang menggunakan BPJS pasti diremehkan entah dari pihak rumah sakit/ dokternya sendiri ini berlaku dikebanyakan rumah sakit swasta!!!! kalau di RSCM dokter tidak berani seperti itu kepasien, pengalaman saya sama saya lahiran di RSIA Budhi Jaya dan perlakuan sama dengan Dr. anaknya dan bidan2 yang tidak mengurus bayi saya dengan benar.

    Like

  49. Yng hrus di slhkn bkn instansi atw dokter atw perawatn nya tapi PEMERINTAH dan prosedur ny… qt pemegang bpjs,dokter dan instansi hanya korban dri ketidak bcusan PEMERINTAH dalam mengurus negara terutama rakyat kecil sperti kita.

    Like

  50. Info terakhir sudah di respon oleh pihak RS, tapi apakah semua penanganan BPJS harus menunggu update ke medsos dlu baru di respon dan dilayani dengan baik, wah… Kacau itu namanya.. (Masukan untuk Para Pejabat ingat tuh pertanggungjawaban terhadap orang-orang miskin yang terdzalimi..)

    Like

  51. ternyata bukan peserta BPJS saja yang diperlakukan tidak menyenangkan, yang bayar alias non BPJS juga diperlakukan tidak menyenangkan oleh RS Hermina Depok. jadi mikir mau promil di Hermina 😦

    baca post berikut :

    Dokter di RS Hermina Depok
    Dendy Freddy

    Jakarta – Sepengatahuan saya RS Hermina itu bagus sekali. Namun, menjadi pemikiran lain bagi saya setelah mengalami kejadian yang sangat tidak menyenangkan. Pada saat istri saya membawa anak ke RS Hermina Depok, pihak RS –dalam hal ini dokter praktek yang menangani, menginstruksikan agar anak saya diopname karena mengalami muntaber. Singkat certia sudah memasuki hari ke-3, kondisi anak saya belum juga mengalami kemajuan yang berarti. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta (saat itu saya sedang berada di Malang) dan langsung menuju RS. Dari penjelasan istri saya, dokter yang menangani anak saya selalu berganti-ganti. Bayangkan saja, 3 hari 3 dokter yang menangani. Janji ingin visit namun setelah kami tunggu tetap saja tidak datang. Lebih mengherankan lagi, pada saat istri saya menelepon si dokter itu, dengan nada yang keras dia bilang “Ibu jangan panik begini, kalau ibu panik saya juga ikut panik”. Lazim seorang dokter berbicara seperti ini kepada orang tua pasien. Akhirnya saya melakukan komplain ke perawat yang sedang bertugas. Saya menanyakan di mana keberadaan dokter yang pertama kali menangani anak saya. Perawat itu mengatakan dokternya sedang mengikuti seminar. Jadi selama ini dia hanya ‘memeriksa’ anak saya melalui telepon dari perawat. Langsung saja saya mengatakan bahwa saya ingin keluar dan pindah ke RS lain. Namun dengan segala dalih apa pun, pihak RS seakan menghalangi niat saya. Mereka juga mengatakan bahwa saya akan ‘pulang paksa’ dan menandatangani secarik kertas. Saya bilang saya tidak peduli mau pulang paksa atau apa pun karena menurut saya kesalahan ada di pihak RS. Janji menelepon saya, sampai detik ini juga dokter tersebut tidak pernah telepon saya. Akhirnya saya dikunjungi oleh salah seorang dokter yang bertugas di sana. Saya menanyakan berapa orang dokter yang bekerja di sini. Jawabannya, “kami tidak punya dokter tetap, semua dokter yang ada adalah dokter praktek”. Lalu saya ditawarkan untuk penggantian dokter yang lain. Saya ditanya, “bapak mau dokter yang mana?” Dia menyebutkan nama dokter. Saya balik tanya, “jika anda sudah lama bergabung di RS ini, saya meminta rekomendasi dari anda saja”. Akhirnya dia menyebutkan satu nama dokter wanita dan saya menyetujuinya. Alhamdulillah, dalam satu hari anak saya dirawat dengan beliau kondisinya mulai membaik. Keesokkan harinya kami diperbolehkan pulang. Harapan saya, seorang dokter pastinya telah menjadwalkan agenda seminar jauh hari. Jika besok atau lusanya dia akan seminar mengapa tidak merekomendasikan kepada dokter yang lain yang memang tidak ada jadwal seminar atau sejenisnya. Takut tidak mendapatkan komisi. Ini kejadiannya di RS Hermina. Ingat, mungkin dokter belum punya anak dan tidak merasakan bagaimana perasaan seperti yang kami alami pada saat itu. Sebagai catatan, dari mulai istri saya mengandung setiap kontrol sampai proses melahirkan saya menggunakan jasa RS Hermina Bekasi yang notabene ‘sama-sama’ RS Hermina. Nama dokter tersebut adalah Benny. Dendy Freddy Villa Mahkota Pesona Blok G2/11 Pondok Gede Bogor memyselfndendy@yahoo.com 0818724059 (msh/nrl)

    Like

  52. mungkin saja dokternya ngg puny isteri,jadinya ngiri ngeliat agan yg perhatian ma isteri agan …
    Jujur gan,ane emosi baca cerita agan ,, kok ada ya manusia ky dokter itu,.. Menurut ane gan manusia gt harus di musnahkan karena takutnya jenis manusia ky gt berkembang biak .. klo tambah bnyak manusia jenis ky gt bkalan kacau ntar’nya dunia .. (maaf,ini semua isi hati ane yg keluar stelah baca cerita agan) ….

    Like

Dipersilahkan berkomentar (^-^)! , Ngapunten kalau gak sempat membalas :-D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s