R4P6H #3 : Antara Dawet Ireng Purworejo dan Dawet Ayu Banjarnegara

Dawet Ireng Purworejo dan Dawet Ayu BanjarnegaraMantemans masbrow dan mbaksis pada waktu perjalanan R4P6H kemarin, KHS sempat mengincipi minuman khas masing-masing daerah yang dilalui diantaranya Dawet Ireng Purworejo dan Dawet Ayu Banjarnegara. Untuk Dawet Ayu Banjarnegara sendiri mungkin beberapa kali di Surabaya sudah banyak menjualnya tetapi kalau mengincipi  langsung dari sumbernya tentu sensasinya akan berbeda. Meskipun sama-sama dawet  ayu-nya…hehehe.  Apa sih kesamaan dan bedanya Dawet Ireng Purworejo dan Dawet Ayu Banjarnegara. Mari simak bersama testimoni KHS yang nubi awam ini mencicipi keduanya. Cekidot..

Dawet Ireng Purworejo

Mengutip wikipedia.org, Dawet Ireng adalah sejenis dawet / cendol. Minuman ini asli dari daerah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah. Kata ireng dari Bahasa Jawa yang artinya hitam. Butiran dari dawet berwarna hitam, warna hitam dawet diperoleh dari abu bakar jerami atau merang, abu bakar jerami kemudian dicampur dengan air sehingga menghasilkan air berwarna hitam, air inilah yang digunakan sebagai pewarna dawet. Dawet ini memiliki keunikan yaitu penyajian dawet yang biasanya jumlah dawetnya jauh lebih banyak dibanding airnya (santan ditambah air gula). Hal unik lainya, biasanya santan diperas langsung dari bungkusan serabut kelapa. Cara penyajiannya cukup sederhana yakni santan, gula jawa dan dawet hitam tadi dimasukkan dalam sebuah mangkuk kecil dan biasanya lebih segar bila dicampur dengan butiran es batu.

Dawet Ireng PurworejoDSC_0030_tnKHS bersama rombongan mencicipi dawet ireng ini di sekitaran Puskesmas Pembantu Desa Popongan Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo pada hari Jum’at, 31 Januari 2014 kemarin. Jadi sambil nanya arah-arah ke Kebumen rombongan ngaso sejenak untuk mencoba merasakan dawet khas dari Purworejo ini di sebuah warung sederhana pinggir jalan. Menurut KHS yang awam ini dawetnya terasa pas terutama gula jawanya tidak terlalu manis atau tajam. Santan yang ada juga tidak terlalu kental sehingga terasa segar apalagi diseduh dengan butiran es batu. Rasanya dawet ireng ini cocok sebagai pemuas dahaga secara sekilas ditengah udara panas siang itu meskipun habis itu juga masih terasa haus-nya. Mungkin pengaruh gula jawa-nya yach. 

Dawet ireng purworejo biasanya ditaruh dalam kuali (gerabah dari tanah) yang dimasukkan boran (jawa-red) dua sisi yang nantinya akan dipikul. Namun sepertinya hal itu sekarang jarang dilakukan karena biasanya orangnya sudah gak mobile alias menetap di warung yang bersangkutan. Sehingga pikulan sama boran ini semacam display saja. Oia KHS tidak paham apakah warna hijau pada display ini merupakan warna khas atau tidak…hehehehe. Mungkin mantemans yang tahu bisa ditambahkan inpohnya 😀

Dawet Ireng PurworejoDSC_0024_tnKomposisi adonan yang pas dawet ireng purworejo ini membuat beberapa kawan menambah double porsi sambil ngobrol-ngobrol dengan mbak-nya ini. Sambil baca-baca peta persiapan arah Kebumen mantemans dan juga istirahat lese-lese di angkringan yang terbuat dari bambu ini.  Menurut KHS rate bintang untuk Dawet Ireng Purworejo ini sekitar 8 bintang diantara skor 1-10 bintang :mrgreen: 😀 . Oia KHS lupa berapa harga per porsinya karena sudah dibayari bendahara turing Mbah Doel Wahyu GPC :mrgreen:

 

Dawet Ayu Banjarnegara

“Kakang kakang pada plesir, maring ngendi ya yi
Tuku dawet dawete Banjarnegara
Seger, anyes, legi.. apa iya?
Daweet ayu… Dawete Banjarnegara.” —Lagu Dawet Ayu—

dawet ayu banjarnegara (5)Dawet Ayu merupakan dawet khas Banjarnegara, Jawa Tengah. Minuman dawet ini merupakan perpaduan cendol yang berasal dari tepung beras dan tepung beras ketan, dicampur dengan santan kelapa, gula aren, serta terdapat aroma pandan dan biasanya bisa dicampur dengan duren. Dan agar lebih segar tentu dicampur dengan butiran-butiran es batu. Ada 3 versi mengapa dawet khas Banjarnegara ini disebut Dawet Ayu, mengutip wikipedia. org sebagai berikut :

  1. Ketua Dewan Kesenian Banjarnegara Tjundaroso mengatakan, dawet Banjarnegara menjadi terkenal awalnya dari lagu yang diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono berjudul ”Dawet Ayu Banjarnegara”. Pada tahun 1980-an, lagu dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol yang terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an. Sejak itu kebanyakan orang di Karesiden Banyumas mengenal dawet Banjarnegara dengan julukan dawet ayu. Lirik lagunya sederhana, tetapi mengena. Lagu bercerita tentang seorang adik yang bertanya kepada kakaknya mau piknik ke mana? Jangan lupa beli dawet Banjarnegara yang segar, dingin, dan manis.
  2. Ada cerita lain lagi soal kemunculan nama dawet ayu. Ahmad Tohari mengatakan, berdasarkan cerita tutur turun-temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal adab ke-20. Generasi ketiga pedagang itu terkenal karena cantik. Maka, dawet yang dijual pun disebut orang sebagai dawet ayu
  3. Keterangan Tohari sejalan dengan keterangan tokoh masyarakat Banyumas, Kiai Haji Khatibul Umam Wiranu. Menurut Wiranu, nama dawet ayu muncul dari pedagang yang bernama Munardjo. Istrinya cantik sehingga dawetnya disebut dawet ayu. Mereka sudah meninggal pada tahun 1960-an. Nah kalau tahu lebih jauh yang versi ketiga ini bisa dilihat blog sebelah (disini)

dawet ayu banjarnegara (4)KHS bersama rombongan mencicipi dawet ayu Banjarnegara ini ketika singgah dialun-alun sehabis dari Purwokerta pada hari selasa tanggal 4 Pebruari 2014.  Siang yang panas itu kami ngaso dulu sebelum pulang sekaligus pengin merasakan dawet ayu banjarnegara dari tanah asalnya. Maklum dawet ayu banjarnegara sendiri bagi KHS bukanlah hal yang susah untuk menemukan di Kota Surabaya. Namun dengan citarasa original dari tanah leluhurnya tentu akan berbeda yah mantemans…hehehe. Di alun-alun Banjarnegara ini ternyata banyak pedagang yang menjajakan dawe ayu namun rombongan memilih salah satu warung yang ada yakni Pak Hadi.

Seperti dawet ireng purworejo, dawet ayu banjarnegara juga ditaruh dalam kuali besar atau gentong yang dimasukkan boran yang nantinya akan dipikul. Uniknya setiap ujung atas boran atau ujung pikulan terdapat 2 orang tokoh punakawan yakni semar dan gareng.  Dimana ternyata tokoh punakawan ini mempunyai makna filosofis dimana tidak hanya sekedar pajangan saja. Sekilas semar dan gareng mempunya kaitan dasar dengan eksistensi dawet ayu sendiri. Sekali lagi KHS juga tidak paham cat warna hijau yang dipilih pada boran itu merupakan warna khas atau ada maksud lain…hehehe 😀

patung angdayu banjarnegara (3)Berbeda dengan dawet ireng, dawet ayu ini disajikan dalam gelas meskipun bisa jadi ini hanya masalah wadah saja.  KHS bersama mantemans sangat menikmati dawet yang cendolnya dari pewarna alami daun pandan ini. Bahkan beberapa teman juga tanduk lagi untuk mencicipi dawet ayu dari tanah lahirnya ini. Menurut lidah KHS mencicipi dawet ayu racikan pak Hadi ini gulanya sedikit terasa nyethak alias tajam sehingga sedikit mengurangi kenikmatan. Maklum KHS sendiri tidak begitu suka yang terlalu manis tetapi mungkin hal ini tidak masalah bagi lidah orang lain. Its Choice gan…xixixi

Sambil meminum dawet ayu, KHS mencoba jalan-jalan di sekitar alun-alun banjarnegara ini. Ternyata didepan gapura alun-alun kabupaten yang bertaline Gilar-Gilar ini terdapat Patung Angdayu alias angkring dawet ayu. Sebuah patung seorang lelaki penjual dawet ayu dengan pikulannya yang ditemani oleh seorang perempuan yang mempersilakan pembeli untuk menikmati dawet ayu. Patung ini seolah menegaskan identitas dawet ayu khas banjarnegara ini 😀 . Monggo mampir mas …

Sekarang KHS mencoba memberi skor secara subjektif untuk dawet ayu ini sekitar 7,5 bintang diantara skor 1-10 bintang. Hal ini menurut KHS terkait gulanya yang terlalu nyethak diatas sehingga mengurangi kenikmatan ketika meminumnya. Tetapi overall minuman dawet ayu banjarnegara ini sungguh menggoda bagi siapa saja yang sedang lewat Banjarnegara.  So jangan lupa mampir yach..

Demikian masbrow testimoni sekilas KHS mengenai kedua dawet diatas tanpa tendensi apapun. Hanya sekedar mengulas beragam kuliner minuman nusantara yang begitu kaya di bumi pertiwi ini. Karena setiap daerah begitu khas dengan segala sesuatunya dimana sangat sulit membandingkan secara diametral…heheheh

maturnuwun

baca juga :

 

Advertisements

26 thoughts on “R4P6H #3 : Antara Dawet Ireng Purworejo dan Dawet Ayu Banjarnegara

Dipersilahkan berkomentar (^-^)! , Ngapunten kalau gak sempat membalas :-D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s