Paradoksial (Hari) Kartini…

Paradoksial (Hari) Kartini…

Siapa sih yang tidak kenal dengan ibu kita yang satu ini namanya senantiasa dikumandangkan dalam lagu nasional dan juga selalu didengung-dengungkan setiap bulan April. Her name is RADEN AYU KARTINI. Saya sendiri kenal sejak lahir di dunia ini sama beliau. Karena beliau adalah Emak tercinta ane gan. Ya nama Emak ane di kampung sana juga (kar)tini. Wkwkwkwk 😀

Apa yang terlintas dibenak kawan-kawan kalau hari kartini? Pasti tidak terlepas dari kebaya dan sanggul. Tidak salah memang karena itu merupakan busana ‘wajib’ ketika hari kartini. Tempat-tempat publik seperti perkantoran, mall dan lainnya pasti akan diwarnai busana kartinian diatas. Tapi apakah sekedar itu saja ?

Sejarah kartini adalah sejarah pergulatan antara feminisme dan religiusitas keislaman. Banyak reduksi dan manipulasi sejarah sehingga terkadang kebenaran perlu dipertanyakan. Tapi yang menjadi pemahaman bersama adalah KARTINI merupakan pejuang emansipasi hak-hak wanita. Hak untuk mengenyam pendidikan dan penghargaan terhadap peran perempuan yang selama ini dipandang sebelah mata oleh kaum lelaki.

Mari membaca sejarah secara jujur, komplit dan benar terkait biografi R.S. Kartini karena dimasyarakat hanya sepenggal-sepenggal sejarah. Surat- surat kepada Ny. Abndanon yang ditulis oleh Kartini kemudian di himpun dan diterjemahkan oleh  Armijn Pane dengan judul “Door Duisternis tot Licht” atau diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Penerjemahan judul ini beberapa sejarawan sangat di sayangkan karena sebenarnya judul kumpulan surat itu terinspirasi oleh Quran Al Baqarah:257 yakni Minadz dzulumâti ilan Nûr atau terjemahnya “Dari kegelapan menuju cahaya”.

Kumpulan surat ini adalah bentuk pergolakan bathin seorang perempuan jawa yang mencoba ‘menjerit; atas ‘kejam’nya feodalisme, diskriminasi penjajahan serta segala bentuk ketidakadilan yang menimpa perempuan. Kumpulan surat ini pula yang ‘menggambarkan’ perubahan titik orientasi kartini dari hanya sekedar perjuangan memajukan perempuan agar kebarat-baratan menjadi perempuan yang islami dan berakar pada negeri sendiri.

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (ditujukan kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902)”.

Terlepas dari itu semua sosok Kartini adalah sosok Inspirasi perempuan Indonesia. Seorang sosok ibu perkasa dalam puritanisme budaya yang mencoba mendorong perempuan untuk berpendidikan dan maju. Bukan dalam kerangka bersaing dengan laki-laki tetapi bagaimana relasi gender ini bisa saling memahami dan menghargai satu sama lain. Terlepas pula beliau harus menjadi istri ketiga dari Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat dan harus meninggal ketika melahirkan anak pertama sekaligus terakhir, beliau adalah sosok yang cerdas, cerdik dan berpikir strategis taktis untuk memajukan perempuan Indonesia pada masa zamanya.

Jangan reduksi perjuangan kartini dengan hanya kebaya dan sanggul sebagai seremoni !

Advertisements

Dipersilahkan berkomentar (^-^)! , Ngapunten kalau gak sempat membalas :-D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s